The Mind | Guilt Trip

 


The Mind

Guilt Trip


Halo dear reader!

Selamat datang dan selamat membaca post kedua dari seri The Mind!

May your mind be free and may you find peace within your soul.
Semoga kamu dapat membebaskan pikiranmu dan menemukan kedamaian dalam jiwamu.

Beberapa waktu lalu ada banyak tenaga magang yang membantu proses berpikir di kepalaku. Kontribusi mereka juga cukup banyak, salah satunya adalah soal Guilt Trip. Namun sangat disayangkan, belum selesai mereka menyusun draft Guilt Trip, masa magang mereka berakhir.

Sebagai kenangan dan penghargaan pada tenaga magang yang pernah mengabdi di kepalaku, Aku dan para pekerja yang lain memutuskan untuk menyelesaikan draft Guilt Trip yang mereka susun dan memublikasikannya untuk dear reader semua!

Apakah dear reader sudah pernah dengar istilah ini?

Apakah dear reader familiar dengan istilah ini?

Kita langsung kenalan sama Guilt Trip ya!!! :)

Guilt Trip adalah salah satu bentuk tingkah laku manipulatif.

Guilt Trip juga merupakan salah satu approach komunikasi tidak langsung.

Sebagai pembuka, Guilt adalah perasaan bersalah. Guilt Trip sendiri secara sederhana adalah salah satu bentuk manipulasi (dan kekerasan psikologi) yang dilakukan oleh seseorang untuk membuat orang lain merasa bersalah atas sesuatu yang dilakukan dan atau tidak dilakukan. Beberapa juga menyebut bahwa Guilt Trip sudah masuk ke dalam kategori bully. Guilt Trip biasanya menargetkan karakteristik yang dianggap oleh pelaku sebagai kelemahan dari korbannya, seperti kecenderungan untuk merasa bersalah berlebihan, rasa percaya diri yang rendah, kurangnya merhagai diri sendiri atau kelembutan hati dari korban.

Menurut salah satu bahan bacaan Aku nih, pasti ada tingkatan atau skala berbeda untuk melihat Guilt Trip, namun Guilt Trip yang benar-benar dianggap berbahaya adalah Guilt Trip yang memengaruhi rasa percaya diri, memengaruhi perasaan untuk menghargai diri sendiri, dan memaksa seseorang merubah keputusan atau sikapnya di saat hal tersebut tidak perlu dilakukan.

Guilt Tripper atau orang yang melakukan Guilt Trip biasanya paham akan apa yang mereka lakukan, meskipun tetap akan ada kemungkinan mereka melakukannya tanpa sengaja, namun mereka paham harus memakai topik atau hal apa yang dapat digunakan dan dibentuk sebagai senjata atau cara agar targetnya merasa bersalah.

Sangat disayangkan, mungkin kita semua pernah menjadi targetnya, mungkin juga secara tidak sengaja kita pernah menjadi pelakunya.

Aku harap dear reader tidak ada yang melakukan Guilt Trip secara sengaja terhadap orang lain sih, tapi berhubung Aku juga inginnya menjadikan blog ini sebagai salah satu safe space bagi siapa saja yang memang ingin dan jika dear reader memang pernah melakukan Guilt Trip secara sengaja terhadap orang lain, lalu kebetulan datang membaca post ini untuk mencoba memperbaikinya, Aku harap post ini bisa membantu dear reader memperbaiki perilaku tersebut ya!

Oh iya, Aku ingat hal yang memicu para tenaga magang di kepalaku saat itu sampai mereka bisa memberikan usul Guilt Trip sebagai sesuatu yang harus dipikirkan adalah karena hal yang dialami oleh salah seorang yang Aku kenal.

Saat itu sedang masa kuliah, namun orang yang Aku kenal ini, sebut saja Q, sedang berusaha merilekskan otaknya dengan membuat banyak cookies agar materi yang harus dipelajari dapat lebih mudah dicerna (ini bisa masuk ke coping mechanism sih, ada namanya stress-bake hehehe). Saat sedang istirahat dari membuat cookies, salah satu teman Q, sebut saja W bertanya melalui aplikasi chat, "Lu belajar udah sampe mana buat kuliah besok?", lalu dijawab Q dengan, "Belom belajar, lagi masak cookies", W selanjutnya merespon dengan, "Nyantai banget lu besok kuliah gak belajar, gak takut ortu kecewa apa kalo kuliah nyantai gitu?".

Atau nih atau,

Misal dear reader membuat acara kumpul-kumpul, lalu salah seorang temannya dear reader tidak bisa hadir karena ada deadline tugas pada saat yang bersamaan, dear reader lalu mengatakan, "Yah yaudah lah gak usah, gak bakal ada yang dateng juga kayaknya ini mah, pada gak kangen sama gua.", bisa jadi karena ini teman dear reader merasa gak enak dan mungkin juga mereka gak mau dear reader ini merasa sedih, akhirnya teman dear reader meng-iyakan untuk datang.

Atau atau,

Dear reader nih ngerjain suatu tugas yang dear reader anggap penting dengan sepenuh hati, namun ada kenalan dear reader yang berkata, "Apa gak lebay lu ngerjain sampe segitunya? Yang lain aja nyantai kok lu kayak ngepush banget sih?".


(credit : as shown)

Apakah ada pattern yang sudah dear reader lihat?

Guilt Tripper biasanya cenderung menggunakan sesuatu yang dapat membuat targetnya merasa bersalah secara berlebihan atau agar targetnya merasakan perasaan bersalah yang bisa jadi seharusnya tidak perlu dirasakan si target atas apa yang target tersebut lakukan atau tidak lakukan.

Sekalipun target tidak melakukan suatu kesalahan, Guilt Tripper biasanya memberikan kesan bahwa situasi yang terjadi atau yang sedang dihadapi adalah salah si target. Kesan ini bisa diberikan secara tersirat maupun secara jelas oleh Guilt Tripper, biasanya mereka membuat celoteh passive-agressive atau membuat rasa tidak senang yang sedang mereka rasakan terlihat jelas oleh target, dan membiarkan target berpikir cara atau jalan untuk memperbaiki "kesalahan" tersebut.

Salah satu masalah terbesar dari hal ini adalah Guilt Tripper biasanya tidak merasa bersalah ataupun merasa malu akan apa yang mereka lakukan. Mereka cenderung bersembunyi dibalik sifat hipokrit (berpura-pura/munafik) yang mereka punya, seperti sifat denial (menolak kenyataan yang ada) dan cenderung melakukan projections terhadap target Guilt Trip mereka.

Guilt atau perasaan bersalah bisa dibilang merupakan suatu emosi yang kompleks. Saat mencoba untuk menyelesaikan draft ini Aku dan para pekerja di kepalaku cukup bingung harus memulai dan menutup draft ini dengan materi yang mana. Hehehehe.

Dear reader bisa tarik nafas dulu sejenak sebelum kita masuk ke pembahasan!

(credit : as shown)

Hm, Guilt Trip ini hal yang benar-benar familiar sama Aku pribadi.

Sering kali aku jadi target Guilt Trip beberapa orang. Hanya saja memang terkadang hal ini tidak Aku hiraukan. Aku pribadi sih aware dengan apa yang mereka gunakan itu, entah mereka sadar atau tidak kalo sebenarnya Aku paham dengan apa yang saat itu mereka lakukan kepadaku. Hehehe.

Seperti misal diriku beri satu contoh ya dear reader. Saat Aku mengupload banyak foto EXO atau NCT di salah satu sosial media yang Aku miliki, kadang ada beberapa teman yang merespon baik foto-foto tersebut, namun pernah sekali atau dua kali respon yang diriku dapat berupa, "kpop mulu ih Syaf yang diupload gak ada yang lain apa". Beberapa waktu lalu respon seperti ini akan dengan mudah membuat Aku menahan diri untuk tidak mengupload apapun yang berbau Kpop selama beberapa hari karena Aku menganggap apa yang Aku perbuat itu sebagai sesuatu yang mengganggu dan salah satu bentuk spam bagi mereka.

Namun biarpun begitu, Aku tidak menyalahkan sepenuhnya mereka yang mungkin, menurut asumsiku tidak sengaja dan tidak memiliki niat jelek dengan memberikan respon seperti itu atas apa yang Aku lakukan, hanya saja menurutku pribadi, it is safe to say that mereka ini melakukan Guilt Trip terhadapku. Secara tidak sadar mereka melakukan manipulasi terhadap keputusan yang Aku miliki (yang awalnya adalah untuk mengupload menjadi tidak mengupload) dan dengan menggunakan intensitas uploadku yang mungkin mereka anggap sudah terlalu banyak atau sering sebagai "senjata" untukku merasa bersalah atau gak enak atas apa yang telah Aku lakukan.

Padahal mungkin, mungkin ya, menurutku pribadi, ada cara yang lebih aman daripada memberikan statement yang memiliki makna ganda dan cenderung menimbulkan perasaan bersalah seperti contoh tadi, mungkin jika beberapa temanku itu dulu bisa menggunakan fitur mute atau hide pada sosial media mereka, mereka akan "terhindar" dari perlakuan Guilt Trip yang mungkin secara tidak sengaja sudah mereka lakukan.

"Yah Syaf, kayak gitu doang mah jangan dianggep serius. Lagian gak semua orang bakal langsung ngerasa gak enak cuma karena statement sepele kayak gitu."

Iya sih ya emang bener, Aku sadar banyak orang yang gak bakal langsung ngerasa bersalah kalo dikasih statement-statement yang sebenernya sudah menjurus Guilt Trip tersebut.

Tapi nih, Dear reader yakin dear reader kenal semua orang yang berinteraksi dengan dear reader secara menyeluruh?

Yakin bisa membaca dan mengetahui semua perasaan milik orang lain?

Coba deh, siapa yang ngerasa kaget Aku beneran ngerasa gak enak dan bersalah ketika Aku dititah kebanyakan Kpop-an? Hehehehe.

EXO sama NCT sudah jadi salah satu safe space Aku beberapa tahun ini, ketika Aku beneran lagi stres, kadang Aku sering lihat mereka dan mungkin sering upload mereka, cuma sekadar untuk merasa sedikit bahagia, yang mungkin memang bisa Aku dapatkan dengan cara melihat mereka saja.

Siapa yang baru tau? Selama ini nganggepnya Aku becanda ya kalo lagi ngomong gitu? Hehehehe.

Kita nih kadang terlalu jumawa sama apa yang kita anggap telah kita tahu.

Padahal mungkin sebetulnya yang kita ketahui itu tidak sampai separuhnya dari kenyataan dan kebenaran yang ada.

Oh iya, untuk saat ini, berhubung Aku juga sedang proses berkenalan lagi dengan diriku, untuk saat ini hal-hal tadi sudah tidak mempan kok HAHAHAHAHAHAHA, salah satu alasan Aku tidak menghiraukan perlakuan manipulatif tadi adalah karena beberapa "senjata" yang mereka gunakan sudah Aku pahami sebagai bagian dari diriku. Dan Aku sudah berusaha untuk menerima bagian dari diriku tersebut. Apa ya, kayak sadar aja, yaudah kalo Aku bisa seneng atau bahagia kayak gini yaudah gapapa. Toh Aku gak ngelanggar perintah agama, gak ngelanggar hukum yang berlaku, gak ngerugiin orang lain. Yaudah aja.

(credit : EXPLORE MILL)

You know, there is this saying that goes like, "Don't say anything if you have nothing nice to say". Atau bahasa kerennya, dah lah diem aja kalo emang gak ada hal yang bae-bae yang mau lu omongin. Setuju sih, kalo emang tidak ada hal baik atau hal penting yang sekiranya bisa atau ingin dikatakan, lebih baik diam. Atau pilih untuk tidak peduli. Merecoki urusan orang lain itu capek loh dear reader.

Oh iya, Aku yang memilih buat gak peduli sama salah satu bentuk Guilt Trip itu bukan berarti sudah kebal sama hal- hal seperti ini loh. Hal-hal seperti ini kayaknya perlu dipelajari seumur hidup ya, lifelong learning gitu. So, be kind! Siapa tau orang di sekitar dear reader atau justru dear reader sendiri sedang mengalami hal-hal ini dan sedang berusaha untuk memperbaiki kualitas dirinya! Hehehehe.

Oh iya, seperti yang Aku bilang, manusia ini kompleks, kita tidak akan pernah sepenuhnya tau apa yang sebenarnya seseorang sedang alami atau rasakan. Jadi mungkin pepatah diam itu emas (terhadap urusan orang lain yang bukan urusan kita) bisa coba dilatih di masa-masa sulit seperti sekarang.

Oke deh, intro dan pembahasan dari Aku sepertinya sudah cukup, mungkin selanjutnya kita bisa langsung membahas bagaimana mengetahui ketika seseorang melakukan Guilt Trip terhadap kita dan bagaimana cara kita untuk lepas dari jerat Guilt Trip aja kali ya?

(credit : as shown)

Hm, dari yang Aku baca, Guilt Trip ini biasanya memang terjadi pada hubungan-hubungan dengan orang terdekat (keluarga, teman, romantic relationship, hubungan dengan rekan kerja, dsb), Guilt Trip juga sering menjadi suatu hal yang biasanya terjadi pada hubungan yang cenderung toxic. "Kalo kamu sayang sama Aku harusnya kamu mau .....", "Kamu gimana sih? Dia aja bisa nemenin Aku jalan, masa kamu nemenin bentar aja gak bisa?", "Kamu gak sayang sama Aku? Gak inget dulu kamu tuh yang bantuin Aku? Sekarang balesan kamu gini?". Familiar dengan beberapa hal tersebut? I'm so sorry if you ever get stucked in a toxic relationship before. I hope you're all doing well now.

Salah satu ahli di website yang Aku baca mengatakan bahwa Guilt Trip memang tidak selalu dengan sengaja dilakukan untuk memanipulasi (misal contoh yang Kpop tadi) namun meskipun tidak dengan sengaja dilakukan, Guilt Trip pasti dapat memberikan efek negatif pada hubungan yang dijalin.

Hal pertama yang mungkin bisa dilakukan untuk mengetahui apakah kita menjadi target Guilt Trip adalah dengan memperhatikan dengan seksama apa yang coba disampaikan oleh orang lain terhadap kita, jika orang ini memberikan sebuah pattern untuk secara terus menerus membuat kita merasa bersalah atas setiap hal yang kita lakukan dan membuat seolah-olah semua kesalahan ada pada diri kita, maka hal tersebut bisa dijadikan sebagai indikasi Guilt Trip.

Lalu bisa juga ketika kita menjalani hubungan yang penuh dengan syarat atau kekangan dan susah sekali untuk mengatakan tidak, sekalipun sudah mengatakan tidak, keputusanmu itu tidak dihargai dan hanya dianggap angin lalu ("Kalo kamu gak mau Aku sedih, nanti jangan dateng ke acara mereka. Temenin Aku aja, kemaren kan pas kamu sakit juga Aku temenin kan?", "Kamu nanti pake bajunya yang ini aja, baju yang Aku beliin deh pokoknya. Aku gak suka baju yang kamu pake itu soalnya, gak kerasa aneh ya emangnya sama kamu?").

Lalu bagaimana caranya kita bisa terlepas atau usaha apa sih yang bisa kita gunakan agar terlepas dari Guilt Trip?

Yang pertama yang bisa Aku berikan, selama proses memahami ini, jangan gegabah, pahami dan sabar serta usahakan untuk berempati terlebih dahulu dengan apa orang tersebut coba sampaikan. Pahami sebenarnya apa alasan mereka melakukan tersebut?
Misal Ibu dear reader berkata, "Kamu nih gak pernah bantuin selama di rumah, bisanya tidur aja.". Coba dipahami sebentar kenapa Ibu bisa bilang gitu, mungkin Ibu bilang gitu karena capek pulang kerja lihat rumah berantakan? Guilt Trip seperti ini biasanya bisa dibilang dilakukan tanpa sengaja, dan bisa diselesaikan dengan komunikasi terbuka untuk mencari solusi yang mungkin bisa menghilangkan rasa gak enak pada semua pihak.

Jangan judge semua orang yang membuat perasaan bersalah di dalam diri dear reader muncul sebagai sebuah bentuk manipulasi dan dengan niatan jelek. Misal A memperingati B yang telah korupsi dana usaha bahwa tindakan tersebut salah dan meminta agar B segera berterus terang pada organisasi dan menyerahkan diri kepada polisi. Hal tersebut selain pasti menimbulkan perasaan malu, juga menimbulkan perasaan bersalah. Apakah perasaan bersalah yang muncul dalam diri B tersebut memang harus dirasakan oleh B? Tentu. Apakah secara objektif hal yang dilakukan A tersebut salah? Tidak.

Salah satu ahli di website yang Aku baca mengatakan bahwa jika suatu keadaan seperti contoh di atas terjadi, maka tidak dapat dikategorikan sebagai manipulasi, karena membuat perasaan bersalah muncul pada situasi yang memang mengharuskan orang tersebut merasa bersalah, hal ini bisa dikategorikan sebagai Guilt Talk.

Guilt Talk bisa terjadi  dikarenakan alasan yang digunakan itu "rasional" dalam kacamata A, selain itu, memang ada poin yang memang benar A sampaikan, perasaan bersalah yang dihasilkan adalah perasaan bersalah yang memang seharusnya dirasakan atau tepat atau benar, sehingga dalam kasus ini yang terjadi adalah Guilt Talk, bukan Guilt Trip.

Yang kedua yang bisa dear reader coba adalah dengan menghargai diri dear reader sendiri. Jika dear reader ada dalam suatu hubungan (hubungan apapun itu) dan setelah dear reader amati dear reader tidak dihargai dalam hubungan itu, coba untuk take a break sejenak dan berikan space antara dear reader dengan orang-orang yang ada di hubungan itu. Jika sesederhana keputusan dear reader untuk menolak hal sepele seperti untuk menghapus penggunaan lipstick yang dianggap terlalu merah dan dianggap menor atau menolak untuk ikut acara makan bersama saja tidak dihargai, maka dear reader bisa memberikan space selama beberapa saat pada orang-orang dalam hubungan itu.

Yang ketiga adalah lakukan komunikasi yang terbuka dan jujur dengan orang yang berinteraksi dengan dear reader atau yang berada dalam hubungan tersebut. Jelaskan bahwa dear reader bisa saja dengan mudah mematuhi apa yang mereka mau namun hal tersebut tetap akan memberikan efek gak seneng dari diri dear reader terhadap mereka. Jika memang dalam hubungan tersebut dear reader merasa tidak bisa bebas menjadi diri dear reader, maka mungkin ada baiknya dear reader membatasi waktu yang dear reader gunakan dengan mereka.

Yang keempat, dear reader bisa stop untuk mencoba meraih persetujuan ataupun standar yang mereka bentuk atas diri dear reader. Biarkan aja kalo mereka mau marah, biarkan aja kalo mereka mau ngambek. That is on them. Kenapa memangnya kalo Aku pake lipstick yang ini? Menurutku bagus dan pas kok, gak menor. Loh? Aku gak bisa ikut karena Aku ada deadline, maaf banget loh ini beneran gak bisa, mungkin lain kali.

Yang terakhir, cut them from your life. Or at least put a break to it. Pahami value diri dear reader, berikan penghargaan untuk diri dear reader dengan menghilangkan mereka dari kehidupan dear reader, jangan dihiraukan. Kalo memang rasanya berat dan terkekang saat menjalani hubungan tersebut, coba pause sebentar untuk istirahat dan evaluasi, pahami situasi yang sedang terjadi dan ambil keputusan yang memang diusahakan sudah sebaik mungkin.

Selanjutnya, saran yang bisa Aku berikan untuk dear reader yang secara sadar dan sengaja melakukan Guilt Trip pada orang lain dan berusaha untuk berubah Aku sederhanakan aja ya? Pertama, jangan hakimi diri terlalu keras, dear reader sudah sadar akan kesalahan yang pernah diperbuat saja udah jadi hal yang patut diberikan applause. Kedua, coba ubah kebiasaan Guilt Trip kepada orang lain yang sudah dibentuk, daripada Guilt Tripping orang lain untuk mendapatkan yang dear reader mau, latih dan lakukan komunikasi terbuka dan jujur soal apa-apa saja yang sebenarnya dear reader inginkan. Ketiga, dear reader bisa coba minta maaf sama orang-orang yang dear reader ingat pernah menjadi target Guilt Trip dear reader.

Berusaha terlepas dari Guilt Trip ataupun berusaha untuk memperbaiki diri agar tidak melakukan Guilt Trip lagi tentu saja sama-sama berat. Namun tidak mungkin tidak bisa dilakukan.

(credit : Quote Master)

Ayo tarik nafas dulu semuanya! Kebetulan pekerja di kepalaku baru berganti shift jadi mereka masih bersiap menyusun penutup! Hehehehehe.

"Intentional or not, guilt-tripping prevents healthy communication and conflict resolution, and often provokes feelings of resentment and frustration." Crystal Raypole

Disengaja atau tidak, tindakan Guilt Trip menghalangi (kita) dalam melakukan komunikasi yang sehat dan menghalangi penyelesaian konflik, serta sering kali memicu perasaan tidak suka dan frustasi.

Menurutku pribadi, emosi manusia dan manusia itu sendiri memang merupakan sesuatu yang kompleks. Agak sulit untukku yang memang tidak memiliki background apa-apa dalam psikologi atau neuro-science untuk membahas hal ini terlalu dalam, oleh karena itu, jika sekiranya dear reader ada pada kondisi yang benar-benar sulit dan membutuhkan pertolongan profesional, dear reader bisa coba untuk datang ke psikolog atau therapist di daerah dear reader.

Teman-temanku yang pernah diskusi dan bertanya saran padaku mungkin sudah lelah mendengar dan atau membaca kalimat ini, namun akan Aku ingatkan sekali lagi.

Coba untuk reflect atau muhashabah ke dalam diri sendiri.

Ini terjadi karena apa?
Aku nih bisa kayak gini kenapa?
Aku nih pernah gak buat orang lain ngerasa kayak gini?

Coba jelajahi sudut-sudut hati dan pikiran yang mungkin masih takut untuk dear reader datangi. Jujur sama diri sendiri itu memang sering kali sulit, namun penting sekali untuk dilakukan. Jangan sungkan untuk mengenali diri dear reader sendiri. Siapa tau ada banyak pembaharuan yang membuat dear reader jadi kaget sendiri HEHEHEHEHEE.

Oke deh berhubung komputer yang digunakan para pekerja di kepalaku sudah mulai panas dan Aku takut mereka mogok kerja nantinya, post kedua seri The Mind Aku cukupkan sampai disini.

Dear reader sekalian, terutama yang masih berkenan membaca sampai bagian ini, para pekerja di kepalaku menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam karena dear reader berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca hasil kerja mereka.

Para pekerja di kepalaku juga menyampaikan permintaan maaf karena mereka memang membutuhkan waktu yang terkadang cukup lama untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan! Tapi mereka apresiasi semua masukan dan kritikan dan diskusi dari dear reader semua kok!

Jika dear reader ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Guilt Trip, sudah Aku list daftar bacaanku ya! Lalu, jika nanti ada yang ingin disampaikan namun dear reader masih malu-malu untuk menyampaikannya, bisa banget kok pake fitur anonim pada kolom komentar! Hehehehe

Jangan lupa untuk jujur dan berempati hari ini!

May your mind be free and may you find peace within your soul.

- Syaf!




Daftar Pustaka Syaf! :

Comments

  1. Wah keren banget! Baru kenal sama istilah ini tapi ternyata pernah terjadi di kehidupan kita sehari-hari ya *speechless*

    Aku mau sedikit sharing gapapa ya? Salah satu teman ku mengalami hal tersebut.Dia bercerita mengalami kejadian dimana tidak ingin mengupload 'lagi' hal yang dia sukai di Instagram gara-gara orang berkomentar seperti "ih wibu" "harus banget ya upload berbau jepang?" dan beberapa komentar lainnya. Sampai dia mengalami perubahan karakter menjadi lebih pendiam dan tidak seceria yang aku kenal. Tapi aku bersyukur dia bisa kembali ceria lagi dan bisa menyalurkan kegemaran nya lewat Instagram seperti dulu.

    Terima kasih syaf atas informasinya! Sekarang aku jadi lebih paham^^

    ReplyDelete
  2. Woooow good content!! Semangat terus yaa ngeblog ya :)

    ReplyDelete
  3. Daging semua isinya mantap malam minggunya jd bermanfaat wkwkwk setuju banget sih, soal guilt trip ini kadang si guilt triper ini nda sengaja berkata seperti itu, baik kita atau org itu harus sama sama eksplor apa dia ngomong gitu krn ga tau kalau bisa nyakitin kita, kita sendiri jg hrs coba buat nelaah mana komentar2 atau omongan yang cuma bikin kita ngebohongin diri sendiri atau toxic, juga mana omongan yang bisa ngebangun diri sendiri kita sendiri. Tapi soal pengalaman guilt trip ini bikin kita lebih hati hati lagi sih kalau berucap, memang lebih baik diam dr pada ngomong yg nyakitin orang ehehehe

    ReplyDelete
  4. Ternyata aku pernah guilt trip :")
    Thank you ya sudah bahas, setidaknya secara tidak langsung aku memahami pernah melakukan hal tersebut ke orang yang kukenal dan pengen minta maaf juga ke dia. Takutnya dia tersinggung dengan guilt trip yang aku berikan secara tidak sengaja. Sekali lagij terimakasihh atas konten blognya, si tunggu konten-konten selanjutnyaaa😊🤗🤗🤗❤❤

    ReplyDelete
  5. sesuai banget nih dikehidupan segala kalangan usia. dari kecil sering banget dapet perlakuan kayak gini sama beberapa teman yang ternyata emang besar banget efeknya, ngerasa bersalah bahkan sampe gak percaya diri, dan aku baru tau ternyata ada istilah untuk hal itu. woaaah terima kasih untuk informasinya!

    ReplyDelete
  6. Apaan nih? Mantul dah baru tahu ada istilah ini, di blog syafira doang gua jadi kenal istilah2 keren macem ni 👍

    ReplyDelete
  7. "kucing mulu, kucing terus" pdhl cuma mau ngeshare kelucuan mereka, kali aja bikin mereka ketawa jg. Akhirnya tiap bikin story kucing, aku hide dari dia :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts